Detail artikel

Orang Tuaku Tidak Mencintaiku, Mengapa Aku Harus Menjadi Anak Baik?


(Sebuah Telaah Hubungan Perceraian Orang Tua dengan Tindak Pidana Anak)

 

“Orang tua saya berpisah ketika saya masih kecil. Saya sudah tidak tahu dimana Ibu saya tinggal sekarang. Saya tinggal bersama Ayah saya dan tidak pernah bertemu bahkan berkomunikasi dengan Ibu saya. Ayah saya bekerja, saya tidak punya teman di rumah, jadi saya berteman dengan teman - teman saya sekarang.”

Pernyataan di atas seringkali kita temui ketika sedang melakukan wawancara untuk Penelitian Kemasyarakatan pada Klien Anak yang Berkonflik dengan Hukum. Sebuah ekspresi kekecewaan dari Anak akibat perpisahan orang tuanya. 

“Divorce is Probably as Painful as Death - William Shatner”

Perceraian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti perihal bercerai antara suami dan istri, kata “bercerai” itu sendiri artinya menjatuhkan talak atau memutuskan hubungan sebagai suami isteri. Perasaan sakit karena perceraian diibaratkan sama dengan perasaaan sakit karena kematian. Perasaan ini tidak hanya dirasakan oleh suami dan istri yang bercerai tetapi juga oleh anak - anak mereka. Bagi anak korban perceraian, perceraian adalah “tanda kematian” keutuhan keluarganya.” Hetherington (dalam Azra, 2017) mengungkapkan bahwa akibat langsung dari sebuah perceraian adalah adanya distres emosional dan masalah perilaku seperti kemarahan, kebencian, kecemasan, dan depresi. Lebih lanjut, perceraian selalu disertai dengan rentetan goncangan yang menggoreskan luka batin yang dalam. Tidak jarang Anak akan menyalahkan diri sendiri, merasa ditolak, tidak dicintai, dan diabaikan. Akibatnya, Anak mulai berpikir untuk mencari sesuatu yang dapat meredam semua perasaan negatif yang Anak rasakan. Anak akan mencari hal - hal yang membuatnya bahagia.

Perasaan bahagia dan diterima Anak bisa didapat dari teman - teman atau lingkungan pergaulannya. Namun, sayangnya tidak semua pergaulan Anak pada zaman sekarang merupakan pergaulan yang baik. Anak bisa saja terjerumus pada pergaulan yang negatif. Seperti bergaul dengan para perokok, pemabuk, bahkan pengguna obat - obatan terlarang. Ketika Anak merasa diterima di dalam lingkungan pergaulan seperti ini maka dengan mudah Anak akan mengikuti apa yang dilakukan oleh teman - teman dalam lingkup pergaulan tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan mereka akan rokok, minuman keras, atau obat - obatan terlarang mereka pasti membutuhkan uang. Karena tidak bisa lagi meminta uang pada orang tua, mereka akan mencari cara untuk mendapatkan uang salah satunya dengan melakukan tindak pidana pencurian. Anak yang baru saja bergabung dalam lingkup pergaulan tersebut demi terus mendapatkan penerimaan dan pengakuan dari teman - temannya akan bersedia dengan senang hati mengikuti apa yang diperintahkan teman - temannya, tidak terkecuali dalam hal negatif seperti mencuri.

Berdasarkan data permintaan Litmas ABH Bapas Banjarmasin pada tahun 2015 - 2017, pencurian adalah tindak pidana yang paling sering dilakukan oleh Anak. Dari 603 permintaan litmas, 271 permintaan adalah tindak pidana pencurian. Peringkat ini diikuti oleh tindak pidana penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang yaitu sejumlah 79 kasus. Sebagian besar perkara ini terjadi akibat pergaulan yang salah dan terutama karena kurangnya pengawasan orang tua karena orang tua berpisah atau sibuk bekerja.

Selain itu, salah satu manifestasi afek negatif yang dirasakan Anak yang orang tuanya bercerai adalah perilaku agresif. Kekecewaan, amarah, dan dendam yang mereka rasakan seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Jika ada sedikit saja rangsangan yang buruk, Anak tidak akan segan - segan bertindak agresif seperti melakukan pemukulan atau penganiayaan. Hal ini sejalan dengan penelitian (Nisfiannoor, 2005) yang menemukan bahwa tingkat agresivitas Anak yang orang tuanya bercerai lebih tinggi daripada Anak yang memiliki orang tua utuh. Berdasarkan data permintaan litmas ABH Bapas Banjarmasin pada tahun 2015 - 2017, dari 603 permintaan litmas, 72 permintaan di antaranya adalah tindak pidana penganiayaan dan pengeroyokan.

 

Meskipun perceraian tidak dilarang, perceraian tetaplah hal yang sangat menyakitkan. Hendaknya, sebelum memutuskan untuk bercerai, suami dan istri sudah mempertimbangkan matang - matang dan sudah memberikan pengertian kepada anak - anaknya. Jika ini dilaksanakan, anak - anak mereka akan tetap merasa diterima dan dicintai. Orang tua juga berkewajiban untuk menanamkan pendidikan moral sehingga Anak tidak mudah terjerumus pada pergaulan yang memberi pengaruh buruk. 

DAFTAR PUSTAKA 

Azra, F. N. (2017). Forgiveness dan Subjective Well Being Dewasa Awal Atas Perceraian Orang Tua pada Masa Remaja. PSIKOBORNEO , 529-540.

Nisfiannoor, M. (2005). Perbandingan Perilaku Agresif Antara Remaja yang Berasal dari Keluarga Bercerai dengan Keluarga Utuh. Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 1 , 1-18.

 

 

 

Penulis :

Pia Rizky Nugraheni, S.Psi

CPNS Bapas Kelas 1 Banjarmasin